Review Non Spoiler Attack on Titan Part 2: End of The World, Tak Mengecewakan

| Oleh: Dante | 21 Sep 2015 - 6:45 AM
107
0
attack on titan: end of the world

Kupaman beruntung bisa menyaksikan terlebih dahulu bagian kedua dari film live action Attack on Titan: End of the World. Film pertama memang menuai kritikan pedas dari kritikus film Toru Sano dan para fans kecewa karena plotnya berbeda dengan manga-nya. Lalu bagaimana bagian keduanya? Menurut Kupaman sih, cukup memuaskan. Kenapa?

Pertama-tama, bagi kamu yang belum pernah menyaksikan film bagian pertama film live action Attack on Titan, jangan khawatir. Karena akan ada recap yang cukup komplit untuk menggambarkan situasi apa saja yang telah terjadi di dunia Attack on Titan versi film. Mengapa Kupaman mengatakannya versi film?

Karena di versi film live action ada perbedaan yang kurang disukai para fans pembaca manga-nya, walau tak akan dipermasalahkan penonton non fans. Perbedaan pertama adalah setting film ini yang berada pada masa sesudah perang besar dengan senjata-senjata modern seperti senapan mesin, bazoka, rudal sampai tank. Berbeda dengan versi manga yang ber-setting jaman dulu dan menggunakan kuda dengan persenjataan panah dan pedang. Kalau soal 3D Maneuver Gear-nya sih, sama saja!

attack on titan: end of the world

Belum lagi mengganti tokoh Levi Ackerman dengan Shikishima, juga meniadakan tokoh penting lain seperti Bertolt dan Reiner. Hilangnya kedua tokoh itu akan digantikan keberadaannya oleh karakter lain. Pokoknya, biar tambah tau perbedaannya, tonton sendiri deh, filmnya!

Dengan sederet perbedaan tersebut, bakal lebih enjoy kalau kita menganggap versi film live action Attack on Titan adalah kisah alternatif yang terpisah dari manga-nya. Walaupun tetap mengambil sebagian besar inspirasi cerita dari manga populer, Attack on Titan karya Hajime Isayama.

Kisah film Attack on Titan Part: End of The World adalah lanjutan cerita Eren yang terungkap identitasnya sebagai seorang manusia yang dapat berubah menjadi seorang Titan. Hingga ke bagian cerita operasi untuk menutup lubang besar di tembok yang pada bagian pertama dihancurkan oleh Colossal Titan.

Secara keseluruhan alurnya juga terasa cepat dan tanpa basa-basi dimana diperlihatkan asal muasal munculnya para Titan. Hingga niat sesungguhnya dari Shikishima dan pertarungan dashyat di akhir film yang melibatkan Titan Eren melawan Armored Titan. Serta battle to death antara Eren dan kawan-kawan melawan Colossal Titan. Akting paling menonjol di film Attack on Titan Part: End of The World ini adalah kiprah Hiroki Hasegawa yang memerankan Shikishima dan Satomi Ishimara yang memerankan si hiperaktif, Hans.

attack on titan: end of the world

Secara efek jika dibandingkan dengan film-film Hollywood berbudget tinggi, film live action Attack on Titan part pertama dan kedua memang masih belum bisa menyamai. Namun overall Kupaman rasa secara keseluruhan sudah cukup oke untuk sebuah film yang diadaptasi dari manga. Walau memang masih ada minus di sana-sini, seperti beberapa bagian yang kelihatan banget green screen-nya.

Tapi desain Armored Titan pada versi film live action jauh lebih oke dibandingkan dengan versi manga atau anime-nya. Untuk fight scene, walau agak berasa “Ultraman ketemu Godzilla” tapi Kupaman sudah cukup puas. Enggak super wow namun masih masuk kategori lumayan.

Dari kacamata penikmat film dan terlepas dari perbedaan dengan versi anime atau manga, rasanya Attack on Titan Part 2: End of The World adalah kisah penutup yang tidak mengecewakan. Tapi rasanya akan lebih baik jika tidak usah dibuat menjadi dua buah film yang terpisah.

Walau terjemahan subtitle Indonesia di beberapa bagian masih kacau, Kupaman cukup enjoy menikmati film yang premiernya di Indonesia bersamaan dengan tanggal tayang resminya di Negeri Sakura ini dari awal hingga akhir. Bagaimana menurut kamu? Tonton saja filmnya langsung di teater GCV Blitz  mulai pada 30 September mendatang.

Setelah film berakhir, jangan buru-buru beranjak dari kursi bioskop, yah! Karena akan ada post-credit scene ala Marvel Cinematic Universe. Sepertinya sih, bisa menjadi prelude menuju film live action selanjutnya (jika nanti dilanjutkan). Sekedar hint, post-credit scenenya agak-agak beraroma film Divergent, loh!

.