Review Assassination Classroom: Konyolnya Si Guru Gurita Yang Diburu Murid-Muridnya

| Oleh: Dante | 06 Oct 2015 - 6:15 AM
135
0

Satu lagi film yang diangkat dari manga akhirnya diputar di bioskop Indonesia. Buat penggemar manga dan animenya, Assassination Classroom yang akan diputar di Blitz Megaplex tanggal 14 Oktober 2015 mendatang ini tentu sebuah berkah.

Sementara buat yang tidak mengikuti manga atau animenya rasanya bakalan cukup terhibur. Sebab ceritanya cukup unik dan konyol karena para murid beramai-ramai saling berlomba untuk membunuh guru berbentuk gurita yang ternyata adalah penjahat dari luar angkasa.

Film  yang diangkat dari manga populer karya Yūsei Matsui, Assassination Classroom ini memang agak absurd tapi cukup menghibur. Mengisahkan kehidupan guru bernama Korosensei, seorang pengajar di kelas 3-E SMP Kunugigaoka. Uniknya, Korosensei sendiri bukan seorang guru biasa, namun mahluk berbentuk gurita yang bisa bergerak dengan kecepatan maksimal Mach 20.

 

Di awal cerita, sang guru yang terkenal dengan “Nurufufufu”-nya ini dikisahkan telah menghancurkan 70 persen  permukaan Bulan. Tujuan selanjutnya adalah untuk menghancurkan Bumi dalam waktu setahun mendatang. Entah kenapa sambil menunggu rencananya tersebut ia malah menjadi guru.

Rupanya karena kehabisan akal untuk membunuh Korosensei, akhirnya seluruh dunia menyerahkan Korosensei kepada Jepang yang lalu mengadakan sebuah sayembara khusus. Bagi para siswa dan siswi kelas 3-E, yaitu siapa saja yang berhasil menghabisi gurunya akan mendapatkan uang sejumlah 10 miliar Yen!

Untuk itu, dibuatlah sebuah senjata khusus yang tidak berbahaya bagi manusia tapi akan sangat fatal untuk guru yang mukanya berubah-ubah warna sesuai mood tersebut. Sayangnya, berbagai upaya dan rencana murid-murid kelas 3-E untuk membunuh guru berakhir dengan kegagalan karena kecepatan Korosensei yang menakjubkan.

Assassination Classroom kurang lebih mirip dengan kisah Great Teacher Onizuka. Dimana seorang guru mengajar murid-murid yang dianggap gagal atau bermasalah namun sebenarnya memiliki potensi melebihi orang kebanyakan. Dalam film ini bakat mereka muncul melalui gemblengan didikan Korosensei yang terus menggembleng para muridnya untuk tidak pernah menyerah. Baik dalam pelajaran atau usaha untuk membunuhnya.

Tidak mudah memang memadatkan cerita yang terdiri dari sekitar 75 chapter dalam manga ke dalam film berdurasi kurang dari dua jam. Alhasil ada beberapa hal yang dikorbankan. Untuk para penggemar manga atau animasinya, hal ini tentu merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

Misalnya penggambaran tokoh Nagisa Shiota diperankan Hey! Say! JUMP' Ryosuke Yamada, murid yang terlihat lemah, kaku dan pemalu namun berbakat luar biasa. Karena pendeknya durasi dan banyaknya tokoh yang coba ditampilkan, latar belakang dari Nagisa jadi kurang terlihat.

Selanjutnya? Di akhir film ini akan ada tulisan “To Be Continued” yang mengindikasikan akan ada kelanjutan dari film yang dapat berupa sebuah konklusi atau mungkin dibiarkan berakhir dalam sebuah ending mengambang ala Attack on Titan: End of the World karena versi manga-nya sendiri juga belum berakhir.

Walau banyak cerita dalam manga-nya yang di-skip, tapi Kupaman cukup menikmati kisah yang versi layar lebarnya ini. Overall para aktor dan aktris muda yang memerankan siswa-siswi kelas 3-E cukup mirip dengan versi manga. Kemampuan mengolah suara Kazunari Ninomiya juga mampu menghidupkan karakter Koro Sensei yang muncul dalam CGI berkualias real dan halus.

.