Resensi Film Smurfs The Lost Village: Pencarian Jati Diri Smurfette

| Oleh: Yudi | 27 Mar 2017 - 6:20 AM
317
0
petualangan tim smurfs untuk menemukan desa rahasia

Film Smurfs: The Lost Village dijadwalkan tayang secara global pada akhir Maret nanti. Indonesia cukup beruntung karena termasuk dalam negara yang mendapat giliran penayangan film terbaru dari para liliput biru ini pada tanggal 31 Maret 2017 nanti. Seperti yang sudah sering disebutkan, film Smurf kali ini benar-benar baru dan tak berhubungan dengan dua sekuel sebelumnya.

Cerita dalam Smurfs: The Lost Village masih melibatkan tim Smurf yang beranggotakan Smurfette, Hefty, Brainy, dan Clumsy. Namun karakter yang menjadi fokus kali ini adalah Smurfette. Selain pencarian desa rahasia, bisa dibilang film ini juga bercerita tentang pencarian jati diri Smurfette–sebagai satu-satunya Smurf perempuan di Desa Smurf.

smurfette menjadi karakter paling disorot dalam film

Tak seperti Smurf lainnya yang sudah memiliki tugasnya sendiri, Smurfette tak memiliki tugas apapun untuk dilakukan. Hal ini membuat dia bingung dan bertanya-tanya, Smurf apakah dia? Apa tujuan hidupnya? Untuk menghibur Smurfette, Hefty, Brainy dan Clumsy mengajaknya bermain. Saat bermain, Smurfette tak sengaja bertemu sosok Smurf misterius. Permainan pun berakhir ketika mereka tertangkap penyihir jahat Gargamel.

Kejadian inilah yang mengawali petualangan tim Smurf untuk memasuki Hutan Terlarang dan mencari desa rahasia. Merasa paling bertanggungjawab, Smurfette memutuskan untuk pergi sendiri, untungnya hal ini cepat diketahui Hefty, Brainy, dan Clumsy, sehingga akhirnya mereka pergi bersama. Dari keseluruhan film, bagian saat mereka menjelajahi Hutan Terlarang mendapat porsi paling banyak.

Berbagai rintangan harus mereka hadapi sebelum akhirnya tiba di desa rahasia. Setibanya di sana, Smurfette langsung menyampaikan peringatan kepada penduduk desa rahasia akan bahaya Gargamel. Sayangnya usaha Smurfette tak berjalan lancar. Seorang penghuni bahkan tak percaya dan menaruh curiga terhadapnya. Ucapan Smurfette akhirnya terbukti saat Gargamel datang dan menangkap para Smurf, namun semua sudah terlambat.

Smurfs: The Lost Village tak ubahnya seperti melihat para Smurf (terutama Smurfette) yang sedang mencari identitas diri–layaknya remaja, menjalani proses pendewasaan, dan ingin membuktikan bahwa dirinya tak seperti yang dikatakan oleh Smurf lainnya. Banyak adegan dalam film yang menunjukkan bagaimana proses pencarian identitas dan pendewasaan tersebut berlangsung.

bagian ending smurfs the lost village menyentuh dan mengharukan

Misalnya saja ketika Hefty dan Brainy saling berbeda pendapat dan nyaris bertengkar. Atau Smurfette yang terlalu sembrono dalam bertindak dan mengambil keputusan. Namun secara keseluruhan, ceritanya sangat ringan dan bahkan cenderung agak membosankan. Untungnya karakter Clumsy senantiasa menghibur dengan kelakuan cerobohnya yang konyol dan membuat tertawa. Keindahan Hutan Terlarang dan kecanggihan Snappy Bug milik Brainy juga menjadi poin plus dalam film ini.

Di awal-awal film juga ada sedikit penjelasan tentang asal-usul Smurfette–yang tentu saja menjadi bagian penting dan sangat berhubungan dengan cerita. Menurut Kupaman, salah satu bagian terbaik dalam film Smurfs: The Lost Village adalah ending-nya. Meskipun adegannya terbilang singkat, namun akhir cerita film ini cukup menyentuh dan mengharukan.

Sedikit tambahan bocoran lagi, jangan buru-buru pergi setelah film selesai, karena ada sesuatu yang cukup menarik dan lucu untuk dilihat dalam credit scene-nya. Film berdurasi sekitar 1.5 jam ini bisa dinikmati siapapun dan bisa jadi pilihan jika memang sedang ingin menonton film animasi. Namun jika hanya sebatas penasaran, jujur saja, Kupaman tak terlalu merekomendasikan Smurfs: The Lost Village.

Score: 2.5/5

.